Ubi Jalar Salah Satu Penyangga Ketahanan Pangan

Wamena- Sesuai kebijakan pemerintah pusat pada tahun 2017 Indonesia harus swasembada pangan dapat diwujudkan dengan melibatkan warga masyarakat untuk dipacu  menggarap lahan tidur sebagai lahan pertanian dengan tanaman jagung, umbi-umbian, padi dan akan diberikan reword bagi masyarakat yang berhasil mengelola lahannya sebagai lahan produktif.

Hal itu dikatakan Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo, SH,MH yang diwakili Sekretaris Daerah Yohanes Walilo. S.Sos. M.Si kamis (12/2) saat menggelar pertemuan Dinas Pertanian dan Perkebunan di Sasana Wio Wamena. “Pemerintah akan mengarahkan setiap SKPD yang ada untuk memberikan pendampingan di setiap Distrik. “2 (dua) SKPD bertugas untuk mengarahkan satu distrik,” ujarnya.
Menurutnya dengan adanya kesepakatan antara TNI-AD dan Kementraian Pertanian tentang kerjasama dibidang pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan, maka akan dipacu peningkatan produksi pangan utama secara Nasional. Upaya peningkatan produksi ini akan didukung dengan melibatkan Bintara Pembina Desa (BABINSA) yang ada disetiap Koramil diwilayah teritorial Kodim 1702 Jayawijaya untuk menjadi pendamping petani yang akan bekerja bersama-sama petugas pertanian di daerah sesuai pengembangan pangan dan holtikultura  dan perkebunan dataran tinggi seluas 141.979 Ha dan untuk komoditi perkebunan 11.000 Ha.
“Kondisi geografis Kabupaten Jayawijaya yang terletak diatas ketinggian 1.500-2.500 M/dpl  dengan luas wilayah 13.925,31 Km2 dan letaknya terisolasi hanya dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi udara, merupakan salah satu faktor penghambat dalam percepatan pembangunan di kawasan Pegunungan Tengah Papua,” ujarnya.
“Namun dibalik itu semua lanjut Walilo, keterisolasian itu dapat dimanfaatkan dengan memanfaatkan komoditi lokal sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan pada tingkat regional terutama pengembangan ubi jalar sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat Pegunungan,” ujarnya.
“Sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai swasembada pangan selambat-lambatnya hingga tahun 2018, pengembangan pangan di Kabupaten Jayawijaya perlu dipikirkan pola pengembangan pangan lokal sebagai pangan alternatif untuk memenuhui kebutuhan pangan bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu kepala Dinas Tanaman pangan dan Perkebunan Kabupaten Jayawijaya, Ir. Randolph I. Mustamu mengatakan, Kabupaten Jayawijaya yang memiliki keragaman sumberdaya alam yang cukup tinggi termasuk diantaranya tanaman sumber pangan lokal mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat meliputi ubi jalar dan talas yang secara turun temurun dibudidayakan oleh masyarakat.
“Ubi jalar merupakan komoditas  penting sebagai makanan pokok bagi penduduk  di wilayah Pegunungan Tengah, peran ubi jalar sangat strategis baik dari aspek ekologi maupun sosial ekonomi,” kata Rendy bijak. “Selain ubi jalar, secara ekologis sangat sedikit tanaman pangan yang mampu beradaptasi dan berproduksi dengan baik dengan teknologi  sederhana di Jayawijaya pada ketinggian 1.650-2700 meter,” ujarnya.
Mustamu menambahkan untuk tanaman padi dari luas tanam 1.120 Ha luas panen hanya sekitar 109 Ha, dengan produktivitas 2,8 Ton/Ha dan produksi 305,02 Kg. Hal ini karena budidaya padi bukan merupakan budaya asli masyarakat di Kabupaten Jayawijaya, sehingga kemampuan untuk mengembangkan tanaman ini saat ini baru dapat dilakukan oleh petani-petani tertentu dan hanya pada daerah-daerah tertentu saja.

    Cari Berita

    Pengumuman

    Perubahan Penetapan Hari Libur dan Cuti Bersama dalam Rangka Hari Raya Natal Tahun 2018 dan Tahun Baru 2019

    SURAT EDARAN GUBERNUR PAPUA tentang Hari Libur Resmi dalam rangka menyongsong Hari Wafat Isa Almasih (Jumat Agung) dan Perayaan Paskah Tahun 2018

    Surat Edaran tentang Hari Libur dan Cuti Bersama dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriyah 2017

    Surat Edaran Gubernur Papua Terkait Libur Hari Raya Nyepi

    Libur Nasional dan Cuti Bersama 2017 tambah 3 hari

    top