Festival Budaya Lembah Baliem, Sukses?
Pesona Festival Budaya Lembah Baliem ini ternyata masih sangat kuat. Wisatawan baik manca negara maupun domestic membanjiri lokasi perang-perangan desa Wosilimo, distrik Kurulu, yang jaraknya cukup jauh dari kota Wamena. Apa saja yang ada di festival tahunan ini, berikut beberapa ulasannya.
Secara umum, pelaksanaan festival ini terbilang sukses. Walaupun ada beberapa parameter untuk menilai suksesnya even ini. Kekurangan jelas ada dalam festival ini, apakah disebabkan kurang siapnya panitia, atau juga beberapa factor lain yang kurang diantisipasi panitia.
Suksesnya acara festival ini bisa dilihat dari beberapa segi. Diantaranya, kunjungan wisatawan manca negara ke festival ini relative stabil, sama atau mendekati jumlah kunjungan tahun 2009. Wisatawan ini masih didominasi wisatawan Eropa, selain itu ada beberapa wisatawan Asia seperti Jepang. Antusiasme para wisatawan ini bisa terlihat dari hadirnya mereka, bahkan tingkat hunian hotel bisa dikatakan penuh dengan para wisatawan ini.
Jumlah wisatawan yang menghadiri festival ini sayangnya tidak diantisipasi oleh panitia dengan menghitung jumlah nilai pastinya. Seperti tahun 2009, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya , Ratna Isbudiarti, SE mengungkapkan bahwa, ”Jumlah kunjungan wisatawan di festival mencapai sekitar 400 (empat ratusan) wisatawan manca negara.” Dan untuk tahun 2010 ini, belum bisa dilihat berapa jumlah nilai pastinya, apakah sama dengan tahun 2009 lalu ataukah bertambah dan berkurang. Hal ini yang masih harus dilihat panitia untuk masa mendatang. Namun dengan apa yang bisa dilihat, kunjungan wisatawan manca negara tahun ini tidaklah mengecewakan.
Dan sebuah catatan adalah bagaimana caranya agar para wisatawan ini bisa kembali lagi tahun depan, bahkan dengan mengajaki serta keluarga atau teman sehingga lebih banyak lagi mereka yang datang melihat festival ini. Artinya, ketika pulang dari Wamena akan banyak cerita menarik untuk kerabat bahkan sanak family di sana, bukan sebuah cerita kurang puas dan membuat mereka enggan lagi datang ke festival ini.
Disisi lain, suksesnya festival ini juga dilihat dari perputaran uang yang ada selama even ini berlangsung. Munculnya sejumlah pedagang bermobil, tenda maupun yang hanya menggelar plastik menjual pinang, muncul bak jamur. Dan bisa dilihat, pembeli juga tak hentinya mencari kebutuhan seperti makan, makanan ringan, rokok, air minum, bahkan sampai pinang. Ramainya transaksi ini, bisa diprediksikan dalam sehari saja, perputaran uang di even ini, bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Artinya, masyarakat juga bisa merasakan hasil dari event ini. Namun sayangnya, perputaran uang di souvenir ternyata masih kecil. Ini nantinya harus menjadi perhatian panitia, bagaimana caranya agar banyak turis berbelanja souvenir di festival ini.
Selanjutnya, keterlibatan masyarakat ternyata masih cukup tinggi. Walaupun secara sekilas, festival kali ini lebih sepi dari tahun lalu, terutama jumlah peserta. Namun hal ini tidak menjadi penyebab tidak suksesnya even ini. Dan yang jangan lupa dilihat adalah, peran serta masyarakat ini juga berimbas ke masyarakat. Artinya, setiap peserta lomba mendapat hadiah pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Sebelumnya, Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo, S.Sos, M.Par menegaskan bahwa,”Jumlah dana pembinaan ini akan ditingkatkan.” Dan bisa dilihat, peserta lomba tari-tarian kini mendapat dana pembinaan Rp 3.500.000,00 sedangkan tim perang-perangan mendapatkan Rp 5.000.000,00 sama halnya peserta lomba lainnya. Artinya, dana yang mereka terima ini bisa dimanfaatkan atau dirasakan langsung oleh masyarakat, belum lagi bagi yang berprestasi atau juara.
Sebuah optimisme bahwa even ini berhasil dengan sukses, walaupun tak sempurna. Disinilah kerja kita semua, bukan hanya instansi terkait, panitia atau Pemkab jayawijaya saja, untuk memberi masukan, saran, namun menjadi tanggung jawab semua pihak. Dan juga, kita tidak boleh anti dengan masukan bahkan kritikan yang isinya memberikan evaluasi kegiatan ini. Karena disinilah kita belajar agar even ini kedepannya akan berjalan lebih baik lagi. Ini butuh kerja keras bahkan pemikiran yang ekstra dari semua pihak. Bagaimanapun even ini adalah milik kita bersama, kebanggaan kita, dan cerita indah kita masyarakat Jayawijaya, yang harus kita banggakan dan kita jaga.
Sementara itu, beberapa evaluasi menjadi sebuah masukan adalah kesiapan panitia dalam kordinasi. Kordinasi baik antar sesame panitia bahkan juga dengan tamu serta protokoler pejabat. Ketepatan waktu ini harus dipersiapkan panitia, terutama jika tamu telah datang. Di festival ke -21 ini, pembukaan yang direncanakan jam 10.00 WIT akhirnya baru dapat dilaksanakan sekitar pukul 12.00 WIT, padahal beberapa tamu penting sudah tampak hadir. Kedepannya, hal ini harus dibenahi agar tak terjadi lagi hal-hal seperti ini.
Selain itu kordinasi antar panitia serta panitia local. Banyaknya campur tangan panitia yang bukan bidang menangani sebuah bidang membuat kordinasi kacau. Pendaftaran peserta saja, masih ada beberapa peserta yang mendaftar mendadak, bahkan kupon sebagai tanda pendaftaran peserta ada yang double/ganda. Hal ini mengakibatkan agak semrawut saat panitia memberikan dana pembinaan yang diterima per grupnya.
Banyak suara yang ditujukan ke panitia, termasuk sebelum festival ini digelar. Diantaranya adalah “kemasan penampilan” sebuah grup yang biasa disampaikan dengan sinopsisnya. Hal ini sangat positif, dan kita juga melihat beberapa peserta menampilkan beberapa inovasi baru namun tidak merubah keaslian seni yang ditampilkan. Ini patut diacungi jempol walaupun kedepannya masih perlu banyak yang dibenahi, termasuk cerita dalam adegan perang-perangan yang tidak monoton, sehingga tamu yang melihat tidak merasa bosan. Tetapi satu hal yang harus dijaga adalah keaslian cerita.
Sementara itu dalam even karnaval, kemeriahan masih sama seperti tahun sebelumnya. Jadwal pelaksanaan tepat seperti di undangan bahkan yang diumumkan oleh panitia. Namun masih ada catatan yang hamper tiap tahun masih saja terjadi. Panitia khususnya seksi acara harus mampu mengatur tempo bagi peserta karnaval, sehingga di jalanan, penonton bisa betul menikmati tanpa harus menunggu lama akibat jarak satu peserta ke peserta lain begitu jauhnya.
Dan, setidaknya acara festival ini terbilang sukses, walau dengan beberapa catatan yang wajar. Kedepannya adalah tugas kita bersama untuk menjadikan festival ini lebih baik dari yang sebelumnya. (*)